
The guy'd drained my tears back in SMP. You don't think, just feel!
Saya menyukai karya-karya sastra. Saya membaca puisi, menikmati novel, menyukai drama, appreciating theatrical performance, mendengarkan lagu dan mendalami liriknya, serta melihat lukisan dan membelalak akan keindahannya.
Saya pernah sedikit mencoba ”mempelajari” sastra. Satu tahun di kelas Tiga Bahasa waktu SMA, memberi saya privilege untuk membaca apa yang tidak diwajibkan pada teman-teman di kelas IPS dan kelas IPA. Lima tahun (ya, lima bukan empat) di jurusan Sastra Inggris membekali saya dengan kacamata berbagai warna untuk ‘membaca’ karya sastra.
Hanya saja, saya masih seringkali duduk bersama dengan mereka yang tidak pernah secuilpun mendapat ‘pelajaran’ sastra dalam menikmati setiap karya. Artinya, terkadang pemahaman saya akan karya-karya itu tidak pernah lebih baik atau lebih dalam dari mereka. Saya toh begini-begini saja.
What is wrong here?
Read More