Mempertahankan benih etiolasi

Saya baru belajar berkebun dan menyemai benih. Iseng kapan hari saya posting foto semaian kale saya di facebook, dan seorang teman yang pegiat tanaman memberitahu kalau benih saya etiolasi, simptomnya kutilang. Banyak sumber di internet menulis benih yang seperti ini sebaiknya dimakan sebagai salad (microgreen) saja.

Merasa sayang, saya tidak menurutinya. Yang saya lakukan adalah saya taruh ia di daerah yg terkena panas matahari konstan sepanjang hari sambil disirami kalau kering. Saking terobsesinya saya, ketika akan bepergian beberapa hari, pot semaian saya bawa serta juga. Hahaha. Takut kalau ditinggal ia akan kering atau tidak terkena sinar.

Semaian kale di kresek kuning, semaian cabe (normal) di pot hitam

Setelah beberapa hari, begini penampakannya. Sudah tambah beberapa daun walaupun batang masih lemah.

Saya akan mencoba konsisten merawatnya dan melihat apakah benar benih kutilang ini bisa survive dengan perawatan yang konstan. Kalau gagal ya tidak apa-apa juga, tapi saya menikmati sekali prosesnya.

Merawat Kemangi di Vila Sawo Kecik

Jadi sudah sejak awal pandemi Vila Sawo Kecik berhenti beroperasi. Kali ini suami mewacanakan untuk seterusnya dipakai sendiri saja. Wacana ini mungkin nanti terlaksana atau berubah, kita lihat saja.

Oh iya, selama ini vila ada yang jaga beserta tukang kebunnya. Mulai bulan Oktober, orangnya mengundurkan diri. Sebenarnya tidak ada hubungannya dengan itu sih, tapi saya mulai berpikir dan berinisiatif untuk merawat kebun dan tanaman-tanaman yang ada di depan dan belakang.

Dimulai dari ini, tanaman kemangi yang bunganya mengering, daunnya jarang, dan rantingnya kecil tidak segar.

Mumpung masih mulai musim hujan. Akhirnya saya bersihkan. Saya posting disini untuk menandai. Nanti kita lihat hasilnya seminggu atau dua minggu lagi ya.